Sabtu, 21 April 2012

Metromini I'm in Love


Semua orang Jakarta pasti tau dan kenal dong dengan sebuah benda kotak beroda empat, berwarna merah mencolok mata (kecolok beneran loh ini), dan memiliki hasil pembuangan berwarna hitam sehitam tinta gurita di lautan dalam sedalam hatiku padamu! (aseekk…) yang jika kamu ada di belakang benda ini ketika dia sedang buang angin, maka kamu akan mengumpat dan memaki sejadi-jadinya dan wajah akan cemong kaya dakocan. Tau dong benda apa ini?? Ini kan benda favorit seluruh warga Jakarta sejati (yang terpaksa).
Jika kamu menjawab benda ini adalah Metromini, maka kamu benar! Iya Metromini! Metromini adalah sebuah ikon Jakarta yang sangat fenomenal tentunya setelah kalah fenomenal oleh Bajaj yang bisa menimbulkan shocking therapy untuk kamu yang belum pernah merasakan gempa, maka kamu bisa mendapatkan simulasi gempa dengan skala tertinggi hanya dengan naik Bajaj ini. Tapi dengan naik Metromini bukan simulasi gempa yang akan kamu dapatkan, tapi lebih dari itu kamu akan diaduk-aduk perasaannya, bisa senang, tertawa, menangis, dan galau mendadak (bukan Pocong aja ya yang bisa galau).
Di dalam Metromini (seharusnya) seorang penumpang adalah pelanggan (mohon digarisbawahi, di Bold, dan di Italic pada kata PELANGGAN) iya kamu semua adalah pelanggan. Dan kamu tau dong di mana-mana yang namanya pelanggan selalu berlaku semboyan “Pelanggan adalah Raja” tapi kalo di Metromini, iya di Metromini, kamu SALAH BESAR jika menggunakan semboyan itu!
Kenapa oh kenapa?? Karena di Metromini Pelanggan aka Penumpang adalah orang yang cuma numpang! Iya cuma numpang, ga lebih dari itu! Mau tau buktinya? Coba aja kamu naik, kalo kamu mujur dan beruntung (yang kemungkinan itu terjadi hanyalah sekitar nol koma sekian persen) maka saat naik tidak akan ada masalah. Kamu akan dapat senyuman dan sapaan manis dari keneknya yang kadang nyeker, belum mandi, kumel, dan bau. Kamu akan dengan sabar ditungguin untuk naik ke dalam Metromininya dan tidak akan berjalan sebelum kamu bisa duduk dengan manis. Keren kaaan…
Tapi ketika kamu akan turun (siap-siap ya) kamu akan lihat kedok asli dari kenek dan supir yang manis tadi! Kamu akan segera melihat aslinya karena saat hendak turun, kamu akan diburu-buru untuk turun, tidak ada yang namanya kamu ditunggu untuk turun, bahkan sebelum kakimu menyentuh daratan pun kamu akan diteriaki, dimarah-marahi, ditarik-tarik, bahkan dibawa jalan terus oleh si supir sampai kamu harus lompat dari bisnya! Padahal kamu itu bayar kan pas naik Metromini tadi? Bukan gratisan karena ngumpet atau pura-pura tidur agar tidak ditagih sama keneknya kan?? (eh itu mah pengalaman pribadi penulis, maaf ya hehehe) tuh kan terbukti kamu cuma numpang, kalo ga numpang ga mungkin dong kamu akan disia-siakan seperti itu??
Dan itu adalah bukti bahwa Metromini telah mengaduk-aduk perasaan kamu, pertama kamu merasa senang dong sebagai penumpang diberi senyuman dan bahkan mungkin pujian kalo kamu dapat kenek yang genit untuk yang cewek pujian ini pasti sering didengar “duh si eneng pagi-pagi udah wangi dan seger bener dandanannya” kamu melayang dong… kamu merasa dong sebagai yang paling cantik semetromini, tapi ketika masuk ke dalam, walla!! seketika itu juga bayangan itu akan sirna! Karena kamu bukan satu-satunya korban dari si kenek, banyak wanita yang berdandan sama dengan kamu di dalam. Dan seketika itu juga semua usaha kamu untuk tampil charming dan mempesona (apalagi yang habis keramas, masih basah-basah gimana gitu) akan sia-sia karena di dalam tidak ada hawa surga (sejuk) yang ada hanyalah panas, gerah, bau keringet, dan bau makeup yang pada luntur… (sedih ya :( ). Dimulai dari situlah kamu akan merasa galau dan tertipu luar dalam… iya tertipu luar dalam bis maksudnya, jangan ngeres dulu deh! Seketika itu juga kegalauan melanda hidup kamu, oh Tuhan….
Tapi di luar kasus kegalauan itu, Metromini adalah sebuah surga dunia yang nyata (keren kan perumpamaannya) bagi para penikmat dan pecinta bis kota (dibaca para orang yang terpaksa harus naik metromini karena belum punya mobil atau motor) karena tanpa Metromini, maka hidup kamu akan rusak, galau dan gundah gulana, karena kamu tidak akan bisa ngantor, kerja, ngeceng, gaul, dan ngapel ke suatu tempat di sana yang hanya bisa dijangkau oleh si metromini karena alpanya mobil dan atau motor kamu (dibaca mobil dan atau motor yang belum kebeli).
Kamu bisa tersenyum di Metromini karena dari jendela metromini kamu bisa melihat kehidupan “hidup” Jakarta yang sebenarnya, kamu bisa melihat di pinggir jalan dipagi hari ada suami istri masih berpelukan kedinginan di halte sedang menunggu bis kota lain (romantis!), ada kakek tua yang berjualan kalender tradisional dengan model yang ada pasaran jawa-nya di depan sebuah gedung perkantoran mewah yang semua karyawannya berdasi dan berjalan cepat. Yang otomatis mereka tidak akan sempat melihat si kakek itu apalagi membeli kalendernya. Karena selain di kantor pasti sudah ada kalender buatan kantor, juga pasti kita tidak akan pernah mau membeli kalender yang dari kantor saja kita sudah dapat banyak untuk dipasang di rumah. Tapi kakek itu selalu ada setiap pagi di kantor itu, tidak tega rasanya melihat dia berjualan di sana. Sekali-kali ingin turun dan memberi beberapa rupiah kepada kakek itu, tapi apa daya aku selalu telat berangkat ke kantornyaaa… :( (semoga ada yang bisa membantu beliau ya, amin).
Ada juga pemandangan seorang bapak yang entah gelandangan atau bukan dia sedang menyisiri rambut anak wanitanya yang masih kecil yang berbaju pink seperti habis mandi (entah mandi di mana itu) di halte bis yang sepi. Bisa melihat rombongan para wanita muda yang berjalan bersama ke kantornya sambil tertawa bahagia di sepanjang jalan sudirman, ada juga pemandangan seorang bapak ato wanita dewasa yang berjalan dengan lunglai, lemas dan tidak semangat menuju kantor. Bahkan bisa melihat bagaimana bahagianya seorang pedagang bubur ayam di samping gedung Arthaloka (daerah dukuh atas) tertawa bahagia karena pembelinya sampai mengantri panjang karena memang dia satu-satunya pedagang makanan sarapan di daerah itu. Ahhh…. Sunguh-sungguh pemandangan yang sangat indah dan bisa menimbulkan senyuman kecil yang bisa menciptakan kebahagiaan dan semangat di pagimu hari itu, terutama di hari senin yang merupakan hari horror bagi kaum pekerja (maksudnya hanya aku yang mengalaminya, kalo yang lain kan ga akan mungkin kenal I hate Monday ya).
Tapi kamu juga bisa menangis di dalam metromini karena ada kejahatan yang selalu mengintai di dalamnya, aku sudah sering menjadi saksi langsung (kejadian di Metromini 640 jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang) segerombolan pencopet sedang beraksi terhadap tas para penumpag wanita (memang para wanita yang sering menjadi korbannya) maka berhati-hatilah kalian wanita, usahakan tas selalu dipegang erat dan berusaha tetap fokus dan konsen dengan bawaannya karena aksi yang digunakan pencopet adalah dengan mengalihkan perhatian calon korbannya dan gerombolan lainnya berperan sebagai eksekutornya. Biasanya meraka akan mengalihkan perhatian kamu dengan berpura-pura akan turun padahal mereka sedang berusaha mempersulit jalan kamu di depan pintu bis dan ada juga yang berusaha memegang kaki atau bagian punggung kamu dengan alasan sapu tangan dia jatuh atau celana/baju kamu kotor dan mereka seolah-olah ingin membersihkan kotoran itu dengan mengeluarkan suara keras dan gaduh sehingga mau tidak mau kamu harus menoleh atau terpecah perhatiannya. Jadi selalu berpegang teguhlah pada peringatan bang Napi “WASPADALAH! Kejahatan bukan saja karena ada niat tapi juga karena ada Kesempatan” jadi ayo para Metromini Mania (kayanya keren nih julukan untuk para fans Metromini) jangan pernah beri kesempatan untuk para penjahat beraksi. Satu niatku yang belum kesampaian adalah ingin membeli Pepper Spray untuk membasmi para pencopet itu, karena dilema sekali antara mau menolong si korban kita takut jadi sasaran kemarahan gerombolan pencopet tapi di satu sisi juga merasa bersalah dan kasihan karena membiarkan kejahatan beraksi di depan mata kita sendiri. Di mana ya beli Pepper Spray? Jika ada yang tau bagi info ya… :)
Tapi itu lah warna-warninya kehidupan di dalam Metromini yang terkadang hanya berjalan sekitar 20 menit karena jarak yang dekat dari rumah atau kos ke kantor atau ada yang berjalan sampai dua jam bahkan lebih karena selain jauh juga terkena macet. Di dalam perjalanan “waktu” itu lah semua gambaran kehidupan di Jakarta bisa tergambarkan dengan detail (jika kita memberi perhatian ke sekitar tentunya, bukan asik dengan BB atau lagu-lagu dari headphone kita sendiri), maka dijamin kita tidak perlu berkeliling atau membuat sensus tentang bagaimana gambaran kehidupan di Jakarta berjalan. Benar-benar gambaran yang indah apa yang ada di balik kaca Metromini itu jika kita mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dan mencoba untuk selalu berpikiran positif.
Terima kasih Ya Allah atas karunia dan anugerah-Mu karena memberi kehidupan dan penghidupanku di Jakarta ini. Kota yang semuanya ada dan semuanya bisa terjadi. Dan terima kasih juga karena belum meberiku mobil dan atau motor sehingga aku bisa terus menikmati Metromini di Jakarta (tapi jangan keterusan ya Ya Allah memberi aku numpang Metromini terus, jangan sampai Cintaku Kepentok di Metromini terus…. segera ya Ya Allah beri aku kendaraan atau tumpangan lain yang lebih baik, amin hehehe).
So what you waiting for now…?? Get yourself prepare and catch your own Metromini and go to your destination…. Jangan lupa bagi ceritanya ya tentang pengalaman naik Metromini kamu di sini :)


Jakarta, 20 April 2012 (kepanasan nih habis turun dari Metromini, huh… hah… huh… hah… gerah…)

Senin, 30 Januari 2012

Meet Me at Airport…


Kali ini aku akan bercerita tentang airport (bandara) dan kejadian lucu yang ada di dalamnya yang aku alami.

Ceritanya pas malam tahun baru kemarin (malam menjelang tahun 2012) aku datang ke bandara untuk bertemu dengan pacar dan adekku yang baru nikahan dan diboyong oleh suaminya ke tempet kerjanya. Pertemuan ini adalah semacam pertemuan singkat saat mereka transit di Jakarta dalam perjalanan menuju Lampung dari Jogja.

Saat itu jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Rencananya pacar dan adekku akan terbang ke Lampung dari Jakarta jam 19.30 sedangkan terbang dari Jogja dan sampai di Cengkareng jam 17.00. jadi aku punya waktu 2 jam untuk bertemu mereka dan melepas kangen dengan sang pujaan hati hahay…

Dan memang dasarnya aku adalah orang yang rajin dan anti lelet soal waktu (ehm… cukup pujian dan standing applause-nya saudara-saudara), maka aku datang lebih awal sebelum mereka mendarat di Cengkareng, tepatnya aku sudah sampai di lokasi 1 jam sebelum mereka landing (kerenkan…). Sesampainya di bandara aku langsung menuju Terminal 1B dengan diantar oleh supirku (bis DAMRI hehehe). Terminal 1B adalah terminal kedatangan pesawat Lion Air.

Selama menunggu mereka, aku duduk di sebuah bangku kosong (bukan judul film horror loh ya…) dalam ruang tunggu. Dan kebetulan di sampingku ada bangku kosong juga, yang (ini dia sumber kelucuannya) kemudian diduduki oleh seorang turis asing yang berkebangsaan entah Cina atau Jepang, pokoknya sipit. Tapi entah kenapa ketika aku melihat turis ini kok perasaanku takut, karena dia selalu melihat-lihat kearahku?? Aku takut jangan-jangan ini turis Thailand yang lagi cari calon ladyboy dari Indonesia untuk dibawa ke rumah bordil di Tahiland sana… OMG maaf ye om seandainya eike banci eike juga pilih-pilih promotor cin… hahahaha. But thanks God ternyata dia bukanlah turis Thailand karena terdengar dari logatnya.

Dan disinilah terjadi obrolan seru antar dua makhluk bumi yang sangat amat jago “bahasa asing” berikut obrolannya (simak baik-baik ya siapa tau ini jadi bahan UAS pelajaran bahasa Indonesia dengan judul “dua makhluk bumi sok tahu dan sok pinter!”)

Suddenly he asked me something:
Tourist                                                 : do you know about the Ku-Mo-To Island?

Me                                                       : an island in Japan? no, never heard before.

Tourists (he glares at me)                      : what?? You are Indonesian citizens right?

Me (keep smiling)                                 : yes I am

Tourist                                                 : then why you don't know Ku-Mo-To Island??

Me (nada tinggi, mulai emosi ceritanya) : because there's no Ku-Mo-To Island in Indonesia.

suddenly!! he acted to me like a monster, he growled, clawing, and make a move like a lizard! and finally!! I knew what he meant by the Ku-Mo-To Island is Ko-Mo-Do Island!! Iya benar saudara-saudara, jadi dari tadi itu si turis kelihatan bingung ngelihatin aku terus adalah karena pengen pamerin bahwa dia bangga dan senang mau jalan-jalan ke Pulau Komodo di NTT sana, OH GOSH….
makanya sir belajar Indonesian spelling dulu before take a conversation!

Udah gitu si turis masih curhat lagi tentang harga tiketnya yang mahal (karena udah kesel aku sih tidak terlalu meladeni juga) tapi setelah dia menunjukkan tiketnya yang kalau tidak salah dia naik Lion Air di situ tertulis tiketnya seharga 4 juta rupiah! Yang aku rasa itu adalah harga gila cuma untuk penerbangan dalam negeri. Tapi bisa juga itu mahal karena dia beli saat high season ya?? Ga tau deh. Cuma yang jelas itu si turis bilang lagi :

Tourist  : I don’t know why My ticket is so expensive, it’s more than 4 million.

Me (yang udah kesel diem aja, tapi setelah dia nyodorin tiketnya, aku jadi tertarik ngobrol lagi) : let me see (dan mulai akting agak-agak ga percaya gitu padahal seneng “rasain lu udah bikin emosi sih hehehe”) dan aku Cuma bilang, Oh I think it’s reasonable because you bought it in high season.

Tourist : Cuma manggut-manggut aja, eh tumben dia nurut kirain mau ngajak tebak gaya lagi!

Dan Alhamdulillah akhirnya panggilan cinta “honey meet me on airport” datang, dan karena aku takut lebih terjerat lagi dalam “keahlian bahasa” masing-masing negara, aku langsung pergi meninggalkan si turis dalam keadaan masih terbengong-bengong (entah kenapa). Dan segera menemui panggilan cintaku hahay! Saat itu jam tepat menunjukkan pukul 17.00 dan aku sekarang gantian yang bertanya “kok tumben Lion Air ga telat???” hanya Tuhan yang tahu…. Dan kisah selanjutnya saat bertemu dengan cintaku (emmm… kayanya nanti aja ya ceritanya, karena ini konsumsi pribadi hehehe)


Jakarta, 30 Januari 2012 (dipojokkan kamar lagi kedinginan dan dengerin lagu Zivillia judul Aishiteru lagu yang aku persembahkan untuk si dia, hahay)