Senin, 30 Juni 2014

Matahari terbit di puncak Gede "Sebuah kisah tentang semangat dan persahabatan"

Halo... semua, udah lama nih ga pernah nulis blog lagi udah dua tahun vacum ga pernah nulis lagi, karena semangat menulis sempat menghilang dan ada kendala di saluran internet dan laptop untuk membuat tulisannya. Laptop sempat rusak (alasan males aja sih sebenarnya hehehe...)

Kali ini ada cerita baru tapi bukan dari pengalaman pribadiku langsung tapi ini adalah pengalaman teman baikku yang ketemu di Komunitas Public Speaking. Dia bernama Taufik panggilannya Aa Taufik. Kemarin bulan Mei 2014 dia baru saja melakukan pendakian ke Gunung Gede, mendaki gunung adalah kecintaan dia sejak lama, sejak zaman kuliah.

Dia dalam tulisannya memiliki quote yang sangat indah untuk dibaca dan direnungkan sebagai seorang pendaki gunung. yaitu 


“kelak anak cucuku akan tahu
bahwa ayahnya, kakeknya adalah seorang pendaki gunung,
aku ingin mereka bangga ketika membaca tulisan ini”

Tuh bagus kan quote-nya? membuat kita memikirkan akan jadi apa kita dan akan dikenang sebagai apa kita kelak? jadi semoga setelah membaca rangkaian cerita ini kita semua akan menemukan inspirasi untuk berkarya dan berprestasi yang kelak akan menjadi nilai dan panutan, atau paling tidak akan menjadi ingatan yang baik bagi anak cucu kita nanti.

Oh iya cerita ini akan sangat panjang dan akan dibagi dalam beberapa seri, semoga tidak bosan untuk membacanya ya.... tapi untuk seorang pecinta gunung atau hobi mendaki gunung pastinya tidak akan bosan untuk membaca cerita ini.

langsung saja ke cerita bagian 1 yaaa... (note: tulisan ini adalah murni semua kata-kata dan pikiran dari Aa Taufik)


Sunrise Gunung Gede Pangrango (C) Aa Taufik
Tiga belas tahun sudah gantung carrier. Ya, tiga belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pendakian terakhir kami adalah bulan februari tahun 2001, pendakian yang takkan pernah kulupa seumur hidup karena beberapa insiden yang kami alami. Mulai dari terkena badai di puncak gunung yang menyebabkan mata dan hidung  berair, hingga tercecernya Bambang. Dahulu ketika punya banyak waktu, setahun minimal  dua kali kami mendaki gunung. Puncak Ciremai adalah puncak gunung terakhir yang kutapaki,  setelah itu kami semua terpisah karena telah menyelesaikan kuliah masing-masing. Kadang ada kerinduan untuk mendaki gunung,  menyatu dengan alam serta mendengar kicauan burung dan heningnya malam, duduk di tanah lapang menatap bulan dan bintang. Ketika mendaki gunung, ada kepuasan tersendiri yang sulit dijelaskan dengan kata–kata, kepuasan batin dan ketenangan jiwa.Tapi apa daya waktu dan kesibukan masing masing yang menghambat kami disamping kota tempat kami tinggal berbeda-beda. Aku tinggal di Jakarta, Bambang, Rizal, Dhany di Bandung, sementara Ncie dan Budi di Cirebon, Asep dan Uki tak tahu di mana.

Berawal dari ide Dhany via bbm dia mengajak naik gunung lagi, tujuan pendakian adalah puncak Mahameru (gunung semeru) dan aku pun mengiyakan. Terpikir  siapa lagi yang akan diajak ya., lalu ingat Rizal dan Bambang barangkali mereka mau ikut. Rizal, Bambang, Dhany, Budi, Ncie,  Uki, dan Asep adalah tim pendakian kami 13 tahun yang lalu. Aku mulai browsing mencari info seputar pendakian semeru, lalu ketemulah sebuah situs yg mengadakan open trip.  Disamping semeru ada juga open trip pendakian Gede. Aku mulai telepon dan bbm salah satunya Bambang, Karena satu hal Dhany dan Rizal tak bisa ikut pendakian, yang bersedia hanya Bambang. Jujur antusiasme dan semangat Bambang lah  yang membuat aku bersemangat lagi dan bertekad mewujudkan pendakian ini. Saat aku telepon, tak ada keraguan dari Bambang, bahkan ia begitu bersemangat dan bertekad bahwa pendakian ini harus terwujud.

Waktu itu aku ingat awal bulan April, aku telepon  Bambang "beng, naik gunung lagi yuk.. .kangen gue" "tujuan kita Semeru Beng" lanjutku, dan dengan penuh semangat bambang bilang "hayuu fik, siaap gue mah. Ntar gue ajak teman gue ya” wah di luar dugaanku  akan dapat jawaban seantusias itu.  "tapi ada open trip bulan september Beng, ga apa-apa kan”  Bambang pun menjawab "ga apa-apa Fik, sekalian kita ada waktu lengkapin peralatan. Pada ilang euy" "sama Beng, punya gue juga pada ilang, sisa carrier, matras dan sleeping bag aja" sahutku. Terpikir oleh kami bahwa sebelum pendakian Semeru harus ada pendakian pemanasan, tujuan terdekat adalah Gunung Gede Pangrango dengan pertimbangan jarak yang tidak terlalu jauh baik dari Jakarta maupun Bandung, dan pendakian bisa dilakukan di hari libur akhir pekan jadi tak mengganggu waktu atau hari kerja, terutama aku yang memiliki waktu terbatas. Oh iya namaku Taufik, bekerja sebagai Accounting & Tax staf di sebuah perusahaan di Jakarta, sementara Bambang bekerja sebagai partner konsultan strategic manajemen di Bandung.

Aku mulai mengontak penyedia open trip yaitu www.wisatagunung.com dengan maksud awal menanyakan kuota untuk pendakian Gede tanggal 23-25 Mei 2014, dan ternyata kuotanya full. Akhirnya aku mendaftarkan untuk pendakian Semeru tanggal 17-21 September 2014. Masih lama sebetulnya tapi tak apa daripada kuotanya penuh, karena hanya dibatasi 40 peserta saja. Salah satu pertimbanganku memilih open trip adalah agar tidak merepotkan dan menyesuaikan waktu cuti yang akan kuajukan. Dengan memakai jasa open trip kami tidak perlu dipusingkan dengan urusan tiket kereta api, transportasi dari kota Malang ke pos pendakian Ranu Pane dan lain-lain karena semuanya diurus oleh penyedia jasa open trip. Sederhananya kami tinggal bayar, persiapan peralatan, tinggal berangkat, mengingat waktu kami yang terbatas. Beda ketika masa kuliah dulu yang punya banyak waktu terutama di masa libur setelah ujian semester, mau pergi sebulan pun tak jadi masalah. (End Of Story 1)

Sabtu, 21 April 2012

Metromini I'm in Love


Semua orang Jakarta pasti tau dan kenal dong dengan sebuah benda kotak beroda empat, berwarna merah mencolok mata (kecolok beneran loh ini), dan memiliki hasil pembuangan berwarna hitam sehitam tinta gurita di lautan dalam sedalam hatiku padamu! (aseekk…) yang jika kamu ada di belakang benda ini ketika dia sedang buang angin, maka kamu akan mengumpat dan memaki sejadi-jadinya dan wajah akan cemong kaya dakocan. Tau dong benda apa ini?? Ini kan benda favorit seluruh warga Jakarta sejati (yang terpaksa).
Jika kamu menjawab benda ini adalah Metromini, maka kamu benar! Iya Metromini! Metromini adalah sebuah ikon Jakarta yang sangat fenomenal tentunya setelah kalah fenomenal oleh Bajaj yang bisa menimbulkan shocking therapy untuk kamu yang belum pernah merasakan gempa, maka kamu bisa mendapatkan simulasi gempa dengan skala tertinggi hanya dengan naik Bajaj ini. Tapi dengan naik Metromini bukan simulasi gempa yang akan kamu dapatkan, tapi lebih dari itu kamu akan diaduk-aduk perasaannya, bisa senang, tertawa, menangis, dan galau mendadak (bukan Pocong aja ya yang bisa galau).
Di dalam Metromini (seharusnya) seorang penumpang adalah pelanggan (mohon digarisbawahi, di Bold, dan di Italic pada kata PELANGGAN) iya kamu semua adalah pelanggan. Dan kamu tau dong di mana-mana yang namanya pelanggan selalu berlaku semboyan “Pelanggan adalah Raja” tapi kalo di Metromini, iya di Metromini, kamu SALAH BESAR jika menggunakan semboyan itu!
Kenapa oh kenapa?? Karena di Metromini Pelanggan aka Penumpang adalah orang yang cuma numpang! Iya cuma numpang, ga lebih dari itu! Mau tau buktinya? Coba aja kamu naik, kalo kamu mujur dan beruntung (yang kemungkinan itu terjadi hanyalah sekitar nol koma sekian persen) maka saat naik tidak akan ada masalah. Kamu akan dapat senyuman dan sapaan manis dari keneknya yang kadang nyeker, belum mandi, kumel, dan bau. Kamu akan dengan sabar ditungguin untuk naik ke dalam Metromininya dan tidak akan berjalan sebelum kamu bisa duduk dengan manis. Keren kaaan…
Tapi ketika kamu akan turun (siap-siap ya) kamu akan lihat kedok asli dari kenek dan supir yang manis tadi! Kamu akan segera melihat aslinya karena saat hendak turun, kamu akan diburu-buru untuk turun, tidak ada yang namanya kamu ditunggu untuk turun, bahkan sebelum kakimu menyentuh daratan pun kamu akan diteriaki, dimarah-marahi, ditarik-tarik, bahkan dibawa jalan terus oleh si supir sampai kamu harus lompat dari bisnya! Padahal kamu itu bayar kan pas naik Metromini tadi? Bukan gratisan karena ngumpet atau pura-pura tidur agar tidak ditagih sama keneknya kan?? (eh itu mah pengalaman pribadi penulis, maaf ya hehehe) tuh kan terbukti kamu cuma numpang, kalo ga numpang ga mungkin dong kamu akan disia-siakan seperti itu??
Dan itu adalah bukti bahwa Metromini telah mengaduk-aduk perasaan kamu, pertama kamu merasa senang dong sebagai penumpang diberi senyuman dan bahkan mungkin pujian kalo kamu dapat kenek yang genit untuk yang cewek pujian ini pasti sering didengar “duh si eneng pagi-pagi udah wangi dan seger bener dandanannya” kamu melayang dong… kamu merasa dong sebagai yang paling cantik semetromini, tapi ketika masuk ke dalam, walla!! seketika itu juga bayangan itu akan sirna! Karena kamu bukan satu-satunya korban dari si kenek, banyak wanita yang berdandan sama dengan kamu di dalam. Dan seketika itu juga semua usaha kamu untuk tampil charming dan mempesona (apalagi yang habis keramas, masih basah-basah gimana gitu) akan sia-sia karena di dalam tidak ada hawa surga (sejuk) yang ada hanyalah panas, gerah, bau keringet, dan bau makeup yang pada luntur… (sedih ya :( ). Dimulai dari situlah kamu akan merasa galau dan tertipu luar dalam… iya tertipu luar dalam bis maksudnya, jangan ngeres dulu deh! Seketika itu juga kegalauan melanda hidup kamu, oh Tuhan….
Tapi di luar kasus kegalauan itu, Metromini adalah sebuah surga dunia yang nyata (keren kan perumpamaannya) bagi para penikmat dan pecinta bis kota (dibaca para orang yang terpaksa harus naik metromini karena belum punya mobil atau motor) karena tanpa Metromini, maka hidup kamu akan rusak, galau dan gundah gulana, karena kamu tidak akan bisa ngantor, kerja, ngeceng, gaul, dan ngapel ke suatu tempat di sana yang hanya bisa dijangkau oleh si metromini karena alpanya mobil dan atau motor kamu (dibaca mobil dan atau motor yang belum kebeli).
Kamu bisa tersenyum di Metromini karena dari jendela metromini kamu bisa melihat kehidupan “hidup” Jakarta yang sebenarnya, kamu bisa melihat di pinggir jalan dipagi hari ada suami istri masih berpelukan kedinginan di halte sedang menunggu bis kota lain (romantis!), ada kakek tua yang berjualan kalender tradisional dengan model yang ada pasaran jawa-nya di depan sebuah gedung perkantoran mewah yang semua karyawannya berdasi dan berjalan cepat. Yang otomatis mereka tidak akan sempat melihat si kakek itu apalagi membeli kalendernya. Karena selain di kantor pasti sudah ada kalender buatan kantor, juga pasti kita tidak akan pernah mau membeli kalender yang dari kantor saja kita sudah dapat banyak untuk dipasang di rumah. Tapi kakek itu selalu ada setiap pagi di kantor itu, tidak tega rasanya melihat dia berjualan di sana. Sekali-kali ingin turun dan memberi beberapa rupiah kepada kakek itu, tapi apa daya aku selalu telat berangkat ke kantornyaaa… :( (semoga ada yang bisa membantu beliau ya, amin).
Ada juga pemandangan seorang bapak yang entah gelandangan atau bukan dia sedang menyisiri rambut anak wanitanya yang masih kecil yang berbaju pink seperti habis mandi (entah mandi di mana itu) di halte bis yang sepi. Bisa melihat rombongan para wanita muda yang berjalan bersama ke kantornya sambil tertawa bahagia di sepanjang jalan sudirman, ada juga pemandangan seorang bapak ato wanita dewasa yang berjalan dengan lunglai, lemas dan tidak semangat menuju kantor. Bahkan bisa melihat bagaimana bahagianya seorang pedagang bubur ayam di samping gedung Arthaloka (daerah dukuh atas) tertawa bahagia karena pembelinya sampai mengantri panjang karena memang dia satu-satunya pedagang makanan sarapan di daerah itu. Ahhh…. Sunguh-sungguh pemandangan yang sangat indah dan bisa menimbulkan senyuman kecil yang bisa menciptakan kebahagiaan dan semangat di pagimu hari itu, terutama di hari senin yang merupakan hari horror bagi kaum pekerja (maksudnya hanya aku yang mengalaminya, kalo yang lain kan ga akan mungkin kenal I hate Monday ya).
Tapi kamu juga bisa menangis di dalam metromini karena ada kejahatan yang selalu mengintai di dalamnya, aku sudah sering menjadi saksi langsung (kejadian di Metromini 640 jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang) segerombolan pencopet sedang beraksi terhadap tas para penumpag wanita (memang para wanita yang sering menjadi korbannya) maka berhati-hatilah kalian wanita, usahakan tas selalu dipegang erat dan berusaha tetap fokus dan konsen dengan bawaannya karena aksi yang digunakan pencopet adalah dengan mengalihkan perhatian calon korbannya dan gerombolan lainnya berperan sebagai eksekutornya. Biasanya meraka akan mengalihkan perhatian kamu dengan berpura-pura akan turun padahal mereka sedang berusaha mempersulit jalan kamu di depan pintu bis dan ada juga yang berusaha memegang kaki atau bagian punggung kamu dengan alasan sapu tangan dia jatuh atau celana/baju kamu kotor dan mereka seolah-olah ingin membersihkan kotoran itu dengan mengeluarkan suara keras dan gaduh sehingga mau tidak mau kamu harus menoleh atau terpecah perhatiannya. Jadi selalu berpegang teguhlah pada peringatan bang Napi “WASPADALAH! Kejahatan bukan saja karena ada niat tapi juga karena ada Kesempatan” jadi ayo para Metromini Mania (kayanya keren nih julukan untuk para fans Metromini) jangan pernah beri kesempatan untuk para penjahat beraksi. Satu niatku yang belum kesampaian adalah ingin membeli Pepper Spray untuk membasmi para pencopet itu, karena dilema sekali antara mau menolong si korban kita takut jadi sasaran kemarahan gerombolan pencopet tapi di satu sisi juga merasa bersalah dan kasihan karena membiarkan kejahatan beraksi di depan mata kita sendiri. Di mana ya beli Pepper Spray? Jika ada yang tau bagi info ya… :)
Tapi itu lah warna-warninya kehidupan di dalam Metromini yang terkadang hanya berjalan sekitar 20 menit karena jarak yang dekat dari rumah atau kos ke kantor atau ada yang berjalan sampai dua jam bahkan lebih karena selain jauh juga terkena macet. Di dalam perjalanan “waktu” itu lah semua gambaran kehidupan di Jakarta bisa tergambarkan dengan detail (jika kita memberi perhatian ke sekitar tentunya, bukan asik dengan BB atau lagu-lagu dari headphone kita sendiri), maka dijamin kita tidak perlu berkeliling atau membuat sensus tentang bagaimana gambaran kehidupan di Jakarta berjalan. Benar-benar gambaran yang indah apa yang ada di balik kaca Metromini itu jika kita mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dan mencoba untuk selalu berpikiran positif.
Terima kasih Ya Allah atas karunia dan anugerah-Mu karena memberi kehidupan dan penghidupanku di Jakarta ini. Kota yang semuanya ada dan semuanya bisa terjadi. Dan terima kasih juga karena belum meberiku mobil dan atau motor sehingga aku bisa terus menikmati Metromini di Jakarta (tapi jangan keterusan ya Ya Allah memberi aku numpang Metromini terus, jangan sampai Cintaku Kepentok di Metromini terus…. segera ya Ya Allah beri aku kendaraan atau tumpangan lain yang lebih baik, amin hehehe).
So what you waiting for now…?? Get yourself prepare and catch your own Metromini and go to your destination…. Jangan lupa bagi ceritanya ya tentang pengalaman naik Metromini kamu di sini :)


Jakarta, 20 April 2012 (kepanasan nih habis turun dari Metromini, huh… hah… huh… hah… gerah…)